TARBIYAH BUKAN SEGALA-GALANYA
Dalam sebuah pertemuan antar ikhwah profesional, seorang peserta melontarkan pernyataan yang bagi saya menarik. Ia mengatakan bahwa seorang ustadz dalam sebuah taujihnya pernah menyampaikan bahwa tempaan tarbiyah ternyata tidak cukup untuk membuat ikhwah tahan terhadap godaan duniawi. Ustadz tersebut prihatin dengan fenomena sebagian ikhwah yang telah duduk dalam jabatan publik dan larut dalam perilaku borjuis. Apa yang diprihatinkan oleh ustadz tersebut, saya amati juga diprihatinkan oleh banyak ikhwah lainnya. Saya tidak akan membahas mengapa hal itu terjadi dalam kolom yang singkat ini. Tetapi saya tertarik dengan pernyataan ustadz tersebut yang mengatakan bahwa tempaan tarbiyah ternyata tidak cukup untuk membuat seorang ikhwah tahan terhadap godaan duniawi. Benarkah? Menurut saya, pernyataan tersebut ada benarnya. Karena memang tarbiyah bukan segala-galanya, seperti yang dikatakan oleh Syech Mushtafa Masyhur. Tentu naif bagi kita jika hanya mengandalkan tarbiyah (jama'i) sebagai satu-satunya cara dalam menjaga iman dan Islam kita. Akan tetapi lebih naif lagi jika ada pendapat yang mengatakan bila tarbiyah saja tidak cukup untuk menjaga iman kita lalu buat apa kita tarbiyah? Oleh sebab itu, Syech Musthafa Masyhur melanjutkan kata-katanya dengan, "Walau tarbiyah bukan segala-galanya, akan tetapi segala sesuatunya berawal dari tarbiyah". Mungkin maksud beliau adalah jika orang yang tarbiyah saja masih bisa tergelincir dari jalan Allah, apalagi yang tidak tarbiyah? Fungsi tarbiyah (jama'i) memang bukan segala-galanya dalam da'wah. Tarbiyah sebenarnya lebih berfungsi sebagai stimulus untuk meningkatkan dan memelihara iman kita. Sebagai stimulus (pencetus awal), mestinya seorang ikhwah melanjutkan tarbiyah (jama'i) dengan tarbiyah zatiyah (mandiri). Tanpa tarbiyah zatiyah, seorang ikhwah akan rentan terhadap godaan kehidupan. Itulah sebabnya. Rasulullah saw sangat ketat menjaga pelaksanaan ibadah hariannya. Sebab memang kunci tarbiyah zatiyah itu adalah pelaksanaan ibadah yaumiah yang rutin, terutama ibadah-ibadah yang bersifat sunnah seperti tilawah Al Qur'an, sholat tepat waktu di masjid, sholat dhuha, tahajud, zikir ma'tsurot, membaca buku-buku Islam, dan lain-lain. Jadi mungkin saja terjadi seorang ikhwah yang tarbiyah (jama'i)-nya bagus berperilaku borju, karena ternyata ia tidak melanjutkan tarbiyah (jama'i)-nya dengan dengan tarbiyah zatiyah berupa pelaksanaan ibadah harian yang rutin. Mungkin ia terlalu sedikit membaca Al Qur'an, tidak rutin melantunkan zikir ma'tsurot atau melakukan sholat tahajud. Atau mungkin ia tidak lagi secara rutin membaca buku-buku Islam, yang sebenarnya juga merupakan muwashofat (sifat) seorang ikhwah. Tegasnya, melalaikan ibadah yaumiah akan membuka peluang lebih besar bagi seorang ikhwah (selevel apa pun) untuk tergelincir dari jalan da'wah ini. Apalagi jika ikhwah tersebut sering tidak hadir dalam tarbiyah (jama'i). Saya jadi teringat dengan cerita seorang al akh yang pernah mengikuti tarbiyah di Mesir. Ia bercerita bahwa murobbinya sangat ketat mengevaluasi ibadah yaumiah binaannya. Satu-satu a'dhonya ditanyai dan jika mereka tidak mencapai target sesuai dengan muwashofat yang ditetapkan maka sang murobbi dengan teliti dan telaten akan menanyakan apa sebabnya hal tersebut terjadi. Katanya, hal tersebut merupakan kebiasaan tarbiyah di Mesir. Cerita ikhwah tersebut berbeda dengan fenomena sebagian tarbiyah di negeri kita. Dimana evaluasi ibadah yaumiah tidak berlangsung serius. Sekedar dicatat dan tidak ada evaluasi lebih lanjut. Atau bahkan sering terlewatkan dalam agenda tarbiyah kita. Bahkan ada sebagian ikhwah yang berpendapat agenda evaluasi ibadah yaumiah tidak perlu dilakukan karena kita sudah sama-sama dewasa, sehingga tidak perlu dikontrol seperti anak kecil. Menurut saya, agenda evaluasi ibadah yaumiah merupakan agenda tarbiyah yang tidak bisa dilewatkan begitu saja dalam setiap pertemuan halaqoh (usroh). Setiap murobbi (naqib) seharusnya menjadikan agenda tersebut sebagai barometer kesungguhan ikhwah dalam melaksanakan ibadah yaumiah, sehingga ia juga sungguh-sungguh menjalankan agenda tersebut dalam halaqoh (usroh). Setiap murobbi (naqib) perlu memiliki paradigma bahwa agenda evaluasi yaumiah di dalam halaqoh (usroh) merupakan kesatuan yang in-heren antara tarbiyah jama'i dengan tarbiyah zatiyah. Ikhwah (selevel apa pun) pasti masih membutuhkan tausiyah dari ikhwah lainnya. Salah satu bentuk tausiyah tersebut adalah dengan menanyakan kepada ikhwah lainnya tentang kabar pelaksanaan ibadah yaumiahnya. Para sahabat di zaman Rasul terbiasa menanyakan kabar iman mereka satu sama lain. Kita perlu mencontoh apa yang dilakukan para sahabat itu dengan cara yang lebih terukur, yakni dengan cara menanyakan kabar pelaksanaan ibadah yaumiahnya. Asumsinya, jika seorang al akh baik ibadah yaumiahnya, maka insya Allah imannya juga akan baik. Dan jika imannya baik, maka ia akan terjaga dari godaan duniawi, termasuk juga dari berperilaku borjuis (baca : kurang Islami). Jadi, janganlah kita melihat agenda evaluasi ibadah yaumiah dengan sebelah mata dan tidak melaksanakannya secara serius, teliti, dan telaten. Setiap murobbi (naqib) seharusnya berani dan percaya diri untuk melakukan agenda tersebut dalam halaqoh (usroh)nya. Mengenai teknis pelaksanaannya, bisa disesuaikan dengan level dari peserta tarbiyah. Untuk peserta pemula, misalnya, perlu dilakukan secara lebih persuasif. Sedang untuk mereka yang sudah lama tarbiyah bisa dilakukan dengan cara yang lebih asertif dengan reward dan punishment yang jelas dan tegas. Saya menyadari bahwa kondisi iman dan akhlaq seorang al akh disebabkan oleh banyak faktor yang interaktif dan kompleks. Tergodanya seorang al akh untuk meninggalkan asholah da'wahnya dengan berpikiran dan berperilaku borju bukan hanya disebabkan faktor tarbiyah, tetapi juga karena faktor non tarbiyah. Perlu dilakukan berbagai strategi, cara, dan sarana untuk menjaga iman para ikhwah, baik dalam keadaan mendapat nikmat maupun ketika mendapat ujian dari Allah SWT. Namun saya berkeyakinan bahwa kontrol pelaksanaan ibadah yaumiah dalam halaqoh (usroh) merupakan cara yang paling efektif dan kontributif dalam meniaga iman dan keikhlasan para ikhwah. Dengan kontrol pelaksanaan ibadah yaumiah di dalam halaqoh (usroh), tarbiyah tidak lagi menjadi periodik seminggu sekali, tetapi menjadi setiap hari karena tarbiyah jama'i dilanjutkan dengan tarbiyah zatiyah. Pada saat itulah insya Allah akan lahir ikhwah-ikhwah yang kokoh aqidahnya, bersih akhlaqnya dan kuat ibadahnya. Mungkin pada saat itulah kita baru boleh berkata, "akan tetapi segala sesuatu berawal dari tarbiyah", seperti yang dikatakan oleh Syech Musthafa Masyhur. Kita berharap dan berdoa semoga kita semua -para ikhwah- tetap menjadikan tarbiyah sebagai 'rumah kita yang sesungguhnya'. Seperti burung elang yang walau terbang setinggi apa pun, tetapi tetap ingat untuk kembali ke sarangnya. Kita berharap semoga kita tidak lupa akan jati diri kita sebagai ikhwah sehingga tidak 'lupa kacang dari kulitnya' karena asyik bersibuk-sibuk dengan berbagai jabatan dan tugas dengan melupakan tugas kita yang asasi untuk menghadiri tarbiyah dan mengoptimalkan kehadiran kita dalam tarbiyah. Semoga kita tetap sadar siapa kita dan dari mana kita berasal. Seperti tetap sadarnya Khalifah Umar bin Khatab ra ketika beliau menegur Amr bin Ash ra yang menyambutnya di perbatasan Yerusalem dengan kemegahan para bangsawan. Umar ra sangat marah dan melempar kerikil ke wajah Amr ra sambil berseru, "Beginikah cara Rasulullah saw mengajarkanmu?".
TARBIYAH BUKAN SEGALA-GALANYA
TARBIYAH BUKAN SEGALA-GALANYA
Posted at 3/16/2007 6:07:12 pm by dwiyusuf