<< December 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, January 22, 2009
Song For Gaza

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight

Posted at 1/22/2009 9:07:40 am by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Tuesday, May 06, 2008
Remaja Islam, Remaja Dakwah

Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.

Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.

Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.

Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:

'Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'(QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.

Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?

Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim" (QS Fushshilat [41]: 33)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma'ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat "tauhid" di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): "Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah." (QS al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di "jaman onta", arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu "ditakdirkan" untuk melawan kebatilan dan kejahatan.

Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.

Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.

Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai bentuk 'kecerewetan' mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.

Rasulullah saw. bersabda: "Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: "Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas." Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa." (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal "kenangan". Yuk, kita kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya. [osolihin: sholihin@gmx.net]


Posted at 5/6/2008 7:15:48 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Thursday, April 05, 2007
Bahan Mentoring - Ikhlas Dalam Berniat

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

   
Tentu kalian pernah atau bahkan sering mendengar orang menyebut-nyebut kata ikhlas, kira-kira apa sih yang dimaksud dengan ikhlas? Untuk lebih jelasnya mungkin bisa kita lihat dari kisah berikut. Rasulullah saw. menatap satu per satu para sahabat yang sedang berkumpul dalam majelis, suasana sangat hening. Untuk memecah keheningan tiba-tiba ada seorang hadirin yang berkata, "Ya Rasulullah, bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah kiranya engkau menjawabnya." "Apa yang hendak engkau tanyakan itu?" tanya Rasulullah dengan nada suara yang begitu lembut. Dengan sikap yang agak tegang si sahabat itu pun langsung bertanya, "Siapakah diantara kami yang akan menjadi ahli surga?" Tiba-tiba, bagai petir menyambar, suasana menjadi sangat tegang. Pertanyaan yang sungguh keterlaluan, setengah sahabat menilainya mengandung ujub (bangga atas diri sendiri) atau riya' dan tidak sedikit yang murka. Adalah Umar bin Khottob yang sudah terlebih dahulu bereaksi, bangkit untuk menghardik si penanya. Untunglah Rasulullah saw. menoleh ke arahnya sambil memberi isyarat untuk menahan diri.
   Rasulullah menatap ramah, beliau dengan tenangnya menjawab, "Engkau lihatlah ke pintu, sebentar lagi orangnya akan muncul." Lalu setiap pasang mata pun menoleh ke ambang pintu, dan setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebut Rasulullah ahli surga itu. Sesaat berlalu dan orang yang mereka tunggu pun muncul. Namun manakala orang itu mengucapkan salam kemudian menggabungkan diri ke dalam majelis, keheranan semakin bertambah. Jawaban Rasulullah rasanya tidak sesuai dengan logika mereka. Sosok tubuh itu tidak lebih dari seorang pemuda sederhana yang tidak pernah tampil di permukaan. Ia adalah sepenggal wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam daftar sahabat dekat Rasulullah. Apa kehebatan pemuda ini? Setiap sahabat penasaran menunggu penjelasan Rasulullah saw.
   Menghadapi kebisuan ini, Rasulullah saw. bersabda, "
Setiap gerak gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridha Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya."
   
Bagai duri menusuk tajam dada mereka, semua yang hadir tersentak. Ikhlas, alangkah indahnya makna yang terkandung di dalamnya. Ikhlas bersih dari segala maksud-maksud pribadi, bersih dari segala pamrih dan riya' (mengharap pujian dari orang), bebas daripada perhitungan untung rugi material. Ikhlas, bersih dari segala hal yang tidak disukai Allah. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa alam raya. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai Satu-satunya Dzat Yang diharapkan, ditakuti, dicintai, diikuti. Satu-satunya Dzat Yang diabdi, disembah. Ikhlas menerima Muhammad saw. sebagai teladan, penjelas, penyampai risalah Islam yang sempurna dan ikhlas menerima Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
   Suasana kembali membisu, sebagian hadirin berkaca-kaca, air mata mengembang, menelusuri niat dalam hati.
   
Ikhlas adalah salah satu tiang akhlaq Islami, tanpanya maka amal akan lenyap bak buih membentur karang, tak ada manfaat. Jadi ikhlas adalah kualitas tertinggi kemurnian hati, hanya karena Allah dan untuk Allah.
   
Dalam setiap perbuatan kita dituntut untuk selalu ikhlas. Ikhlas sebelum melakukan amal, ikhlas ketika sedang melakukan amal, ikhlas setelah melakukan amal. Contohnya ketika kita akan belajar maka kita niatkan han ya untuk Allah, begitu juga ketika sedang belajar kita niatkan hanya untuk Allah, dan ketika sudah belajar kita pun tetap mengingat-ingat bahwa belajar yang baru saja kita lakukan ikhlas karena Allah.
   Dan jangan sampai kita terpeleset untuk melakukan suatu perbuatttan karena selain Allah. Ada baiknya kita dengarkan hadits yang cukup panjang berikut ini. "Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu ?" Dia menjawab, "Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid." Allah berfirman, "Engkau dusta, tetapi engkau berperang supaya dikatakan 'Dia adalah orang yang gagah berani.' Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)'. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya, "Apa yang kau perbuat dengan nikmat-nikmat itu ?" Dia menjawab, "Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur'an karena-Mu'. Allah berfirman, "Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, 'Dia adalah orang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur'an agar dikatakan 'Dia adalah qari' (pandai membaca)'. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)'. Kemudian diperintah agar ia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?" Dia menjawab, "Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu." Allah berfirman, "Engkau dusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan, 'Dia seorang pemurah'. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)'. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka." (Diriwayatkan Muslim, An-Nasa'y, At-Tirmidzy dan Ibnu Hibban).
   
Jadi walaupun amalan yang kita lakukan kelihatannya besar namun jika kita lakukan tidak ikhlas maka akan sia-sia belaka, tidak bermanfaat. Oleh karena itu walaupun kita melakukan perbuatan-perbuatan yang sederhana dan baik, asal kita ikhlas pasti akan dicatat sebagai amal baik. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, menyingkirkan duri dari jalan, menolong orang tua yang akan menyeberang jalan, dan lain-lain. Nah, pernah nggak adik-adik seperti itu ?   
   Ikhlas memberikan kekuatan yang sangat luar biasa, hadits berikut ini menggambarkan seberapa besar kekuatan ikhlas. "Tatkala Allah menciptakan bumi, maka ia pun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung, dan kekuatan diberikan kepadanya yang ternyata bumi diam. Maka para malaikat pun heran terhadap penciptaan gunung itu. Mereka bertanya, "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaanMu yang lebih kuat daripada gunung?" Allah menjawab, "Ada, yaitu besi." Mereka bertanya, "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaanMu yang lebih kuat daripada besi ?" Allah menjawab, "Ada, yaitu api." Mereka bertanya, "Ya Rabbi, adakah dalam penciptaanMu yang lebih kuat daripada api?" Allah menjawab, "Ada, yaitu air." Mereka bertanya, "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaanMu yang lebih kuat daripada air?" Allah menjawab, "Ada, yaitu angin." Mereka bertanya, "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaanMu yang lebih kuat daripada angin?" Allah menjawab, "Ada, yaitu anak Adam yang mengeluarkan shodaqoh dengan tangan kanannya sedang kanan kirinya tidak mengetahui." (Diriwayatkan At-Tirmidzy dan Ahmad).
   
Beginilah hadits ini menggambarkan kepada kita bahwa kekuatan iman dan ikhlas jauh lebih hebat daripada segala kekuatan materi. Kekuatan iman dan ikhlas jauh melebihi kekuatan gunung yang tidak bergetar di permukaan bumi, kekuatan besi yang bisa menembus gunung, kekuatan api yang bisa melelehkan besi, kekuatan air yang bisa memadamkan api dan kekuatan angin yang bisa menggerakkan air. Yang lebih kuat dari semua itu adalah hati manusia yang ikhlas karena Allah, yang mengeluarkan shadaqah dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya. Hal ini dikarenakan ikhlas memiliki tujuan yang unggul dan mulia yaitu keridhoan Allah.
   Nah, adik-adik setelah mengetahui apa arti ikhlas, jadi mulai sekarang dalalm melakukan sesuatu tentunya harus dengan niat yang ikhlas, ya … Baik itu dalam belajar, membantu orang tua di rumah, berteman, juga jangan lupa ikut mentoring ini juga harus dengan niat yang ikhlas. Supaya apa yang kita kerjakan semua itu mendapat pahala dari Allah sebagai tabungan di akhirat…

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Posted at 4/5/2007 12:05:11 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Friday, March 16, 2007
TARBIYAH BUKAN SEGALA-GALANYA

Dalam sebuah pertemuan antar ikhwah profesional, seorang peserta melontarkan pernyataan yang bagi saya menarik. Ia mengatakan bahwa seorang ustadz dalam sebuah taujihnya pernah menyampaikan bahwa tempaan tarbiyah ternyata tidak cukup untuk membuat ikhwah tahan terhadap godaan duniawi. Ustadz tersebut prihatin dengan fenomena sebagian ikhwah yang telah duduk dalam jabatan publik dan larut dalam perilaku borjuis. Apa yang diprihatinkan oleh ustadz tersebut, saya amati juga diprihatinkan oleh banyak ikhwah lainnya. Saya tidak akan membahas mengapa hal itu terjadi dalam kolom yang singkat ini. Tetapi saya tertarik dengan pernyataan ustadz tersebut yang mengatakan bahwa tempaan tarbiyah ternyata tidak cukup untuk membuat seorang ikhwah tahan terhadap godaan duniawi. Benarkah? Menurut saya, pernyataan tersebut ada benarnya. Karena memang tarbiyah bukan segala-galanya, seperti yang dikatakan oleh Syech Mushtafa Masyhur. Tentu naif bagi kita jika hanya mengandalkan tarbiyah (jama'i) sebagai satu-satunya cara dalam menjaga iman dan Islam kita. Akan tetapi lebih naif lagi jika ada pendapat yang mengatakan bila tarbiyah saja tidak cukup untuk menjaga iman kita lalu buat apa kita tarbiyah? Oleh sebab itu, Syech Musthafa Masyhur melanjutkan kata-katanya dengan, "Walau tarbiyah bukan segala-galanya, akan tetapi segala sesuatunya berawal dari tarbiyah". Mungkin maksud beliau adalah jika orang yang tarbiyah saja masih bisa tergelincir dari jalan Allah, apalagi yang tidak tarbiyah? Fungsi tarbiyah (jama'i) memang bukan segala-galanya dalam da'wah. Tarbiyah sebenarnya lebih berfungsi sebagai stimulus untuk meningkatkan dan memelihara iman kita. Sebagai stimulus (pencetus awal), mestinya seorang ikhwah melanjutkan tarbiyah (jama'i) dengan tarbiyah zatiyah (mandiri). Tanpa tarbiyah zatiyah, seorang ikhwah akan rentan terhadap godaan kehidupan. Itulah sebabnya. Rasulullah saw sangat ketat menjaga pelaksanaan ibadah hariannya. Sebab memang kunci tarbiyah zatiyah itu adalah pelaksanaan ibadah yaumiah yang rutin, terutama ibadah-ibadah yang bersifat sunnah seperti tilawah Al Qur'an, sholat tepat waktu di masjid, sholat dhuha, tahajud, zikir ma'tsurot, membaca buku-buku Islam, dan lain-lain. Jadi mungkin saja terjadi seorang ikhwah yang tarbiyah (jama'i)-nya bagus berperilaku borju, karena ternyata ia tidak melanjutkan tarbiyah (jama'i)-nya dengan dengan tarbiyah zatiyah berupa pelaksanaan ibadah harian yang rutin. Mungkin ia terlalu sedikit membaca Al Qur'an, tidak rutin melantunkan zikir ma'tsurot atau melakukan sholat tahajud. Atau mungkin ia tidak lagi secara rutin membaca buku-buku Islam, yang sebenarnya juga merupakan muwashofat (sifat) seorang ikhwah. Tegasnya, melalaikan ibadah yaumiah akan membuka peluang lebih besar bagi seorang ikhwah (selevel apa pun) untuk tergelincir dari jalan da'wah ini. Apalagi jika ikhwah tersebut sering tidak hadir dalam tarbiyah (jama'i). Saya jadi teringat dengan cerita seorang al akh yang pernah mengikuti tarbiyah di Mesir. Ia bercerita bahwa murobbinya sangat ketat mengevaluasi ibadah yaumiah binaannya. Satu-satu a'dhonya ditanyai dan jika mereka tidak mencapai target sesuai dengan muwashofat yang ditetapkan maka sang murobbi dengan teliti dan telaten akan menanyakan apa sebabnya hal tersebut terjadi. Katanya, hal tersebut merupakan kebiasaan tarbiyah di Mesir. Cerita ikhwah tersebut berbeda dengan fenomena sebagian tarbiyah di negeri kita. Dimana evaluasi ibadah yaumiah tidak berlangsung serius. Sekedar dicatat dan tidak ada evaluasi lebih lanjut. Atau bahkan sering terlewatkan dalam agenda tarbiyah kita. Bahkan ada sebagian ikhwah yang berpendapat agenda evaluasi ibadah yaumiah tidak perlu dilakukan karena kita sudah sama-sama dewasa, sehingga tidak perlu dikontrol seperti anak kecil. Menurut saya, agenda evaluasi ibadah yaumiah merupakan agenda tarbiyah yang tidak bisa dilewatkan begitu saja dalam setiap pertemuan halaqoh (usroh). Setiap murobbi (naqib) seharusnya menjadikan agenda tersebut sebagai barometer kesungguhan ikhwah dalam melaksanakan ibadah yaumiah, sehingga ia juga sungguh-sungguh menjalankan agenda tersebut dalam halaqoh (usroh). Setiap murobbi (naqib) perlu memiliki paradigma bahwa agenda evaluasi yaumiah di dalam halaqoh (usroh) merupakan kesatuan yang in-heren antara tarbiyah jama'i dengan tarbiyah zatiyah. Ikhwah (selevel apa pun) pasti masih membutuhkan tausiyah dari ikhwah lainnya. Salah satu bentuk tausiyah tersebut adalah dengan menanyakan kepada ikhwah lainnya tentang kabar pelaksanaan ibadah yaumiahnya. Para sahabat di zaman Rasul terbiasa menanyakan kabar iman mereka satu sama lain. Kita perlu mencontoh apa yang dilakukan para sahabat itu dengan cara yang lebih terukur, yakni dengan cara menanyakan kabar pelaksanaan ibadah yaumiahnya. Asumsinya, jika seorang al akh baik ibadah yaumiahnya, maka insya Allah imannya juga akan baik. Dan jika imannya baik, maka ia akan terjaga dari godaan duniawi, termasuk juga dari berperilaku borjuis (baca : kurang Islami). Jadi, janganlah kita melihat agenda evaluasi ibadah yaumiah dengan sebelah mata dan tidak melaksanakannya secara serius, teliti, dan telaten. Setiap murobbi (naqib) seharusnya berani dan percaya diri untuk melakukan agenda tersebut dalam halaqoh (usroh)nya. Mengenai teknis pelaksanaannya, bisa disesuaikan dengan level dari peserta tarbiyah. Untuk peserta pemula, misalnya, perlu dilakukan secara lebih persuasif. Sedang untuk mereka yang sudah lama tarbiyah bisa dilakukan dengan cara yang lebih asertif dengan reward dan punishment yang jelas dan tegas. Saya menyadari bahwa kondisi iman dan akhlaq seorang al akh disebabkan oleh banyak faktor yang interaktif dan kompleks. Tergodanya seorang al akh untuk meninggalkan asholah da'wahnya dengan berpikiran dan berperilaku borju bukan hanya disebabkan faktor tarbiyah, tetapi juga karena faktor non tarbiyah. Perlu dilakukan berbagai strategi, cara, dan sarana untuk menjaga iman para ikhwah, baik dalam keadaan mendapat nikmat maupun ketika mendapat ujian dari Allah SWT. Namun saya berkeyakinan bahwa kontrol pelaksanaan ibadah yaumiah dalam halaqoh (usroh) merupakan cara yang paling efektif dan kontributif dalam meniaga iman dan keikhlasan para ikhwah. Dengan kontrol pelaksanaan ibadah yaumiah di dalam halaqoh (usroh), tarbiyah tidak lagi menjadi periodik seminggu sekali, tetapi menjadi setiap hari karena tarbiyah jama'i dilanjutkan dengan tarbiyah zatiyah. Pada saat itulah insya Allah akan lahir ikhwah-ikhwah yang kokoh aqidahnya, bersih akhlaqnya dan kuat ibadahnya. Mungkin pada saat itulah kita baru boleh berkata, "akan tetapi segala sesuatu berawal dari tarbiyah", seperti yang dikatakan oleh Syech Musthafa Masyhur. Kita berharap dan berdoa semoga kita semua -para ikhwah- tetap menjadikan tarbiyah sebagai 'rumah kita yang sesungguhnya'. Seperti burung elang yang walau terbang setinggi apa pun, tetapi tetap ingat untuk kembali ke sarangnya. Kita berharap semoga kita tidak lupa akan jati diri kita sebagai ikhwah sehingga tidak 'lupa kacang dari kulitnya' karena asyik bersibuk-sibuk dengan berbagai jabatan dan tugas dengan melupakan tugas kita yang asasi untuk menghadiri tarbiyah dan mengoptimalkan kehadiran kita dalam tarbiyah. Semoga kita tetap sadar siapa kita dan dari mana kita berasal. Seperti tetap sadarnya Khalifah Umar bin Khatab ra ketika beliau menegur Amr bin Ash ra yang menyambutnya di perbatasan Yerusalem dengan kemegahan para bangsawan. Umar ra sangat marah dan melempar kerikil ke wajah Amr ra sambil berseru, "Beginikah cara Rasulullah saw mengajarkanmu?".

Posted at 3/16/2007 6:07:12 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Wednesday, March 07, 2007
Bahan Mentoring - Tadabur QS. Al Ma'uun : 1-7

Assalamualaikum wr.wb.
Hallo adi-adik yang manis, apa kabar ? semoga kalian semua berada didalam lindungan Allah swt (Amiiin).Bagaimana, apakah kalian siap untuk mendengarkan materi kali ini ? Jika belum maka kalian harus lebih dahulu mempersiapakan hati, pikiran dan jiwa kalian agar dapat berkonsentrasi pada materi kali ini. Ok ! sudah siap.
Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya pantas kita panjatkan kehadirat Illahi Rabbi, yang telah memberikan kepada kita semua rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita ke majelis yang di penuh oleh para malaikat- malaikat Allah, yang berdoa untuk kebaikan kita Dan tak lupa shalawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita, sauri teladan kita Nabi Besar Muhammad saw serta para sahabatnya dan orang-orang yang selalu senantiasa berada di jalan-Nya. Untuk memulai alangkah baiknya kita bersama-sama membaca Basmallah .Bismillahirahmannirahim.
Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu dari surat cinta yang Allah berikan untuk umat manusia yang dIsampaikan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril. Begitu besar rasa sayang dan cintanya Allah kepada umat manusia sehingga Dia menurunkan wahyu ini sebagai petunjuk dan peringatan kepada manusia agar tidak tergelincir kedalam api neraka. Wahyu Allah yang berupa surat cinta ini tidaklah sama dengan surat cinta seseorang yang sedang jatuh cinta.Kalau surat cinta orang yang jatuh cinta itukan biasanya berisi tentang seribu rayuan dan janji -janji gombal, yang ditulis diatas kertas surat berwarna pink, begitu kan ?? ayo siapa yang sudah pernah membuatnya ??.
Namun surat cinta dari Allah ini bukan seperti itu, yang bertuliskan rayuan-rayuan gombal yang memabukan, melainkan berisi tentang pentunjuk-petunjuk untuk menjalani hidup, sejarah-sejarah dahulu, bahkan kejadian-kejadian yang akan terjadi dimasa mendatang. Selain itu ada pula janji-janji Allah bagi mereka yang beriman dan tidak beriman kepada Allah,, semuanya itu pasti Allah tepati karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Surat Cinta ini pun berbahasa yang indah sekali hingga tidak ada seorang penyair atau pujangga sehebat apapun sanggup menandinginya. Ayo siapa yang bisa menebak, sebenarnya apa sih surat cinta dari Allah ini ? ya . benar surat cinta yang dimaksud di sini adalah Al Quran.
Dari sekian banyak surat cinta yang Allah berikan, pada kesempatan kali ini kita akan membahas Al Quran surat yang ke 107, yaitu surat Al -Maa'uun.Adakah diantara kalian yang hafal isi dari Al Quran surat Al-Maa'uun ini ? Masa tidak ada yang hafal sih, surat cinta dari kekasih saja hafal sampai titik dan komanya, masa surat cinta dari Allah tidak ada yang hafal satu pun ? Ayo !!. Subhanallah ternyata adik -adik sudah hafal, nanti harus tahu ya arti disetiap ayat pada surat ini. OK!

SEJARAH
Sebelum kita mentadaburi isi dari ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran Surat Al-Maa'uun ini, maka kita harus mengetahaui sejarah dari surat ini dan sebab-sebab mengapa Allah mengirimkan surat cinta ini ? pasti ada penyebabnya kan ? Baiklah ! sekarang dengarkan dengan seksama ya!.
Qur'an surat ke 107 ini terdiri dari tujuh ayat dan digolongkan kedalam surat-surat Makiyyah ( penjelasan : Surat Makiyyah adalah surat yang diturunkan di kota Mekah, pada umumnya ayat-ayatnya pendek dan berisi mengenai ke Tauhidan. Selain dari surat Makiyyah maka ada pula surat Madaniah). Surat Al-Mauun ini diturunkan setelah surat At-Takatsur. Nama dari surat ini yaitu Al-Maa'uun diambil dari kata "Al-Mauun" yang terdapat dalam ayat ke tujuh dari surat itu sendiri, yang berbunyi "Wayam nauu nal maa'uun". Arti Al -Maa'uun itu sendiri adalah barang-barang yang berguna.
Setiap wahyu Allah ini turun selalu diikuti oleh sebuah peristiwa atau yang lebih dikenal dengan kata "Asbabun nuzul", begitu juga dengan Al Qur'an surat Al-Maa'uun ini : "Pada zaman Rasullah dulu ada sekelompok kaum munafik yang rajin ibadah, dalam hal ini mengejarakan sholat. Namun patut disayangkan bahwa setiap mereka sholat itu tidak diniatkan karena Allah, melainkan karena ingin dilihat oleh orang lain.
Ketika ada orang yang melihat mereka sholat maka mereka akan sholat dengn khusuyunya tetapi jika tidak ada orang yang melihatnya maka mereka sholat dengan seenaknya bahkan mereka tidak mengerjakannya. Apa yang dikerjakan selalu ingin mendapatkan pujian dari orang lain atau dengan kata lain riya selain itu kaum munafik ini enggan untuk memeberikan barang-barang berguna yang dimikinya kepda orang yang membutuhkannya dengan kata lain kaum munafik ini enggan untuk megeluarkan zakat.Allah tidak menyukai kaum seperti ini oleh karena itu
Allah menurunkan Wahyu Nya kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril, sebagai ancaman kepada kaum munafik tersebut dan menggolongkan mereka kedalam orang-orang yang mendustakan agama Allah." Itu lah yang melatari turunnya wahyu Allah Al Quran surat Al - Maa'uun ini.

POKOK-POKOK Al QURAN SURAT AL-MAA'UUN
   Dilihat dari setiap ayat yang terdapat didalam surat Al-Maa'uun menjelaskan isi pokok dari surat ini , yang secara garis besar adalah menjelaskan tentang beberapa sifat manusia yang di pandang sebagai mendustakan agama Allah dan sekaligus merupakan ancaman yang ditunjukan Allah kepada orang-orang yang melalaikan sholat dan berbuat riya atau sifat seseorang yang melakukan amal perbuatan bukan karena Allah dan ingin mendapatkan pujian dari masyarakat.
Sifat-sifat yang di pandang sebagai mendustakan agama Allah ada 5 antara lain :
-   Orang yang menghardik anak Yatim
-   Orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
-   Orang yang melalaikan sholat
-   Orang yang berbuat riya
-   Orang yang tidak mau memberikan barang-barang yang berguna, yang dimilikinya (tidak mau untuk mengeluarkan zakat )
Kelima sifat ini merupakan sifat-sifat buruk yang seharusnya dihindari oleh kita semua karena sifat seoperti ini akan membawa kita kedalam kesengsaraan.
Sekarang kita akan membahas lebih rinci mengenai lima sifat buruk yang tergolong dalam mendustakan agama secara satu persatu agar lebih jelas lagi :

A. Orang yang meghardik anak Yatim.
Allah sangat membenci orang-orang yang menghardik anak yatim, hal ini dijelaskan di Surat Al Mauun ini dan Allah menempatkannya pada urutan pertama sebagai orang-orang yang mendustakan agama dibandingkan ciri-ciri yang lainya.Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa Nabi besar kita Muhammad saw telah menjadi anak yatim ketika beliau masih berada didalam kandungan ibunya, dan kemudian pada usia 6 tahun beliau menjadi anak yatim piatu karena ditinggalkan oleh ibunda tercinta. Maksud dari anak yatim disini bukan saja berarti anak yang tidak mempunyai ayah saja, tapi didalam termasuk anak piatu bahkan anak yatim piatu.
Oleh karena itu kita yang masih mempunyai kedua orang tua seharusnya lebih bersyukur karena kita masih mendapatkan kasih sayang dari orang tua, sedangkan mereka anak yatim tidak mendapatkan sepenuhnya.Kewajiban kita jugalah untuk membagi kasih sayang kita miliki kepada mereka.
Allah memerintahkan kepada kita semua untuk memelihara mereka dengan kasih sayang, terdapat didalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 220, artinya : "Tentang dunia dan akhirat .Dan mereka bertanya kepada mu tentang anak yatim, katakanlah : "mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka maka mereka adalah saudara mu dan Allah mengetahui siapa yang membuta kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Jadi wajib bagi kita semua untuk memelihara anak yatim bukan malah menghardiknya bahkan menyia-nyiakannya.

B. Orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
Maksud dari point yang kedua ini adalah Ciri kedua dari oang yang mendustakan agama adalah orang yang melarang orang lain memberi makan kepada orang miskin. Secara moral ini bukan merupakan tindakan yang baik dan Allah membenci perbuatan seperti ini.
Pada Al Quran surat Al Baqarah ayat 215 yang artiya : "Mereka bertanya kepada mu tentang apa yang mereka nafkahkan .Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak,kaum kerabat,anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebajikan yang kamu buat maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya."
Ayat ini jelas bukan !! dan seharusnya kita jangan terlalu khawatir degan harta yang kita miliki hilang atau kita jatuh miskin karena kita menafkahkan orang lain.Rezeki, umur, dan jodoh Allah yang mengatur semuanya, jika Allah menghendaki kita miskin mudah bagi Allah untuk melakukanya.
Sekarang yang perlu kita lakukan adalah bersyukur atas segala yang nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dan jangan lah terbesit dalam diri rasa iri dan sombong karena hal itu adalah tanda orang yang tidak mau bersyukur sesuai dengan jajni Allah dalam Alquran surat Ibrahim ayat 7 yang artinya :
"Dan (ingatlah juga),tatkala Tuhanmu mema'lumkan:"Sesungguhnya jika kamu bersyukur ,pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih".ini merupakan janji Allah yang pasti akan ditepati oleh Allah.
Ada satu hal lagi yang perlu ditekankan pada point yang kedua ini, janganlah kita membeda-bedakan orang karena harta kekayaan yang dimilikinya baikk yang kaya atau pun miskin.Di mata Allah kekayaan tidak ada artinya, hanya tingkat ketakwaanlah yang membedakan kita .Semakin tinggi ketakwaan kita maka semakin tinggi derajat kita dihadapan Allah, dan sebaliknya.Dan ingat lah prinsip bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah, maksudnya lebih baik kita memberi daripada menerima atau meminta sekali pun kita miskin berusahalah untuk tidak menunggu bantuan orang lain.
Allah pulalah yang menentukan kadar rezeki hambanya ini dijelaskan didalam Al Quran surat Az-zumar ayat 52, artinya : "Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki dan menyempitkan bagi siapa yang yang dikehendaki-Nya ?.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman." Jadi jangan pernah protes atas rezeki yang Allah berikan untuk kita, percuma saja karena Allah yang menentukan.

C.    Orang yang melalaikan sholat
Ciri yang ketiga dari orang yang mendustakan agama adalah oarng yang melalaikan sholatnya. Ayo, siapa diantara adik-adik yang sholatnya masih bolong-bolong ? Subuh kesiangan, Dzuhur kesibukan, Ashar kealpaan, Maghrib kecapaian, Isya ketiduran lalu kapan mau sholatnya ???.Ayat ke empat dan kelima dari surat Al Mauun ini merupakan peringatan bagi mereka yang melalaikan sholat tergolong kedalam orang yang mendustakan agama. Apa jadinya ! bagai orang yang tidak melaksanakan sholat, jika oarang yang melalaikan sholat saja sudah dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama ?? Semoga kita semua tidak termasuk kedalamnya .Amiin.
Jika kita sudah mengaku bahwa diri kita adalah seorang muslim maka ada lima kewajiban yang harus kita kerjakan yaitu ; pertama mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan kesaksian bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah.
Kita yang ketika dilahirkan sudah berada dalam keluarga yang islami maka tidak perlu lagi kita mengikrarkannya cukup dibaca didalam sholat atau pun do'a sedangkan untuk orang yang baru masuk kedalam islam maka wajib diikrarkan dan dIsaksikan oleh beberapa orang, karena pada hakekatnya semua manusia sebelum dilahirkan kedunia dirahim mereka sudah bersaksi dan terlahirdalam keadaan yang suci, kedua orang tuanya lah yang menjadikannya seorang nasrani atau pun majusi.
Kewajiban kedua adalah sholat, dimana sholat yang wajib kita kerjakan adalah sholat yang lima waktu yaitu subuh, dzuhur, ashar, magrib, isya. Kelima sholat ini jangan sampai dilalaikan apalagi ditinggalkan dalam keadaan apapun kecuali bagi wanita yang sedang haid ,orang gila, orang yang bukan muslim alangkah baiknya jika sholat-sholat sunahnya pun dilaksanakan. Jadi sangat jelas sekali jika kalian sedang tidak haid bagi wanita, tetapi kalian muslim tidak melaksanakan sholat maka dapat dikatakan kalian adalah orang gila ! Mau disebut orang gila ??.
Ada sebuah cerita menarik yang mungkin bisa menjadi motivasi bagi kita untuk dapat meningkatkan ibadah sholat kita. Begini ceritanya, ada seseorang hamba Allah yang telah meninggal, ketika di alam kubur digambarkan surga yang indah sebagai tempatnya nanti, di dalam surga tersebut terdapat banyak pintu yang menunggu orang-orang yang sholeh dan sholehah.
Namun ada satu kejanggalan yang terjadi pada hamba Allah yang tadi, semua pintu yang ada di surga tersebut memanggil untuk masuk kedalammnya. Hamba Allah itu bebas untuk memilih surga yang mana saja. Subhanallah. Sebenarnya apa yang terjadi hingga semuanya seperti itu? Ternyata selama hidupnya ia tidak pernah meninggalkan sholat bahkan melalaikannya saja tak pernah. Ia selalu berusah untuk sholat tepat pada waktunya, ketika adzan belum sampai dikumandangkan namun telah masuk waktunya sholat maka ia akan meninggalkan aktivitas yang dilakukannya untuk mengerjakan sholat. Bisakah kita seperti itu ?? insya Allah jika kita mau terus berusaha dan berlatih sholat tepat pada waktunya.
Kewajiban ketiga sebagai seorang muslim yaitu menjalankan puasa, terutama puasa di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh. Kakak yakin untuk kewajiban yang satu ini adik-adik sudah secara penuh melaksanakannya walau pun ada sebagian diantara kalian yang puasa hanya karena perintah orang tua, ikut-ikutan, atau mengharapkan baju baru keika lebaran nanti , benarkan ???.
Tapi tiadak apa-apa, namun untuk kedepannya harus diniatkan untuk mendapatkan ridha dari Allah, dan niat karena Allah ini tidak hanya dilakukan ketika puasa saja tetapi diseluruh aktivitas kita kerjakan.
Dan yang ke empat adalah membayar zakat, untuk point yang ini akan kita bahas diakhir nanti karena terkait dengan point kelima dari ciri-ciri orang yang mendustakan agama. Kewajiban kelima adalah melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu, yang tidak mampu jangan memaksakan diri.
Itu tadi adalah lima kewajiban yang harus kita kerjakan sebagai seorang muslim sekarang kita kembali kepada pokok pembahasan orang-orang yang melalaikan sholat. Pada hakekatnya Allah tidak butuh akan semua amal yang kiat lakukan karean Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa, Dia mempunyai segala-Nya, kitalah yang justru perlu akan amal-amal tersebut sebagai bekal di hari akhir nanti.
Ada yang perlu direnungkan, bahwa kita hidup di dunia ini tidak pernah tahu sampai kapan, mungkin saja sejam lagi kita akan meninggal, atau sebulan lagi, atau bahkan entah beberapa tahun lagi. Kalau kita selalu menunda-menunda ibadah atau melalaikan kewajiban kita sebagai muslim, lalu apa yang akan kita bawa sebagai bekal dihari akhir nanti ?.Mulai sekarang kita azamkan dalam hati kita untuk tidak menunda kewajiban kita sebagai muslim.jadi kalau sudah waktunya sholat langsung kita mengerjakannya jangan ditunda lagi karena kita tidak tahu apa yang terjadi setelah ini.
Bahkan alangkah baiknya jika sesaat sebelum waktu sholat dimulai kita sudah berwudhu bersiap-siap untuk menanti melaksanakan sholat. Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang seperti ini. Sekarang pertanyaannya bisa kah kita seperti ini ??? Insya Allah.

D. Orang berbuat Riya
Riya adalah melakukan suat amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah swt akan tetapi hanya sekedar untuk mencari pujian atau kemansyhuran dimasyarakat semata. Riya ini termasuk kedalam penyakit hati (bukan liver) yang terkadang kita sendiri tidak pernah menyadarinya. Sifat inilah yang terbesit di dalam hati kaum munafik disetiap amal ibadah yang dilakukannya.
Ada yang sholatnya ingin mendapatkan pujian dari calon mertua sehingga sholatnya dilamakan,bacaanya dipanjang-panjangkan hingga terlihat fasih dan khusu, ada yang sholatnya ingin mendapatkan pria idamannya, karena pria itu rajin sholatnya, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya yang tersembunyi ketika sholat.
   Sedikit saja terlintas dalam hati kita, ketika melakukan amal perbuatan bukan dilandasi karena ridha dari Allah maka amal perbuatan yang kita lakukan akan percuma saja.Oleh karena itu hati-hatilah disetiap melakukan pekerjaan jagalah selalu niat kita, jangan sampai melenceng kemana-mana hingga akhir pekerjaan itu. Sesuai dengan hadit yang diriwayatkan oleh Imam Buhkrori dan Muslim "Bahwa segala sesuatu itu tergantun nitanya" (kurang lebih bunyinya seperti itu). Memang niat itu spele kelihatannya namun niatlah yang menentukan hasil dari segala amal perbuatan kita.
Sebenarnanya masih banyak penyakit hati lainnya, yang setiap saat dapat mengtori hati kita, seperti sombong, angkuh, Ri'a. Oh ya! Bedakan antara Riya dan ri'a, kalau Ri'a itu pengertianya sombung, angkuh. Sedangkan Riya adalah yang tadi melakukan pekerjaan bukan karena mencari keridhaan Allah swt. Untuk mencegah agar penyakit hati tidak merusak keimanan kita maka banyak-banyaklah berdzikir atau sering mengingat Allah, insya Allah hati kita akan tejaga.Menurut Imam Al-ghazaly "berdikir yang baik adalah lima menit sekali" namun kalau bisa setiap menit yang kita miliki hendaklah berdzikir kepada Allah.

E. Orang yang enggan (menolong dengan) barang-barang berguna
Sebagian mufassirin mengartikan enggan menolong dengan barang-barang berguna adalah enggan untuk mengeluarkan zakat.Pada hal seperti yang kita ketahui bahwa membayarzakat adalah asalah satu kewajiban yang harus kita kerjakan, apabila orang itu tidak mampu untuk membayar zakat maka Islam telah mengatur semuanya, ada keringan-keringan bagi orang seperti itu.
Zakat yang wajib dibayar adalah zakat fitrah, biasanya dikeluarkan menjelang Idul Fitri karena dengan zakat ini dapat mensucikan diri kita dari dosa-dosa dan menyempurnakan puasa yang telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Selain zakat fitrah ada zakat harta, zakat ini di tujukan kepada mereka yang memiliki kekayaan baik berupa perkebuna, peternakan, perikanan, harta benda dan yang lainnya, apabila telah sampai batas yang telah ditentukan (atau nisabnya) .
Dengan adanya zakat ini dapat menumbuhkan kasih sayang sesama manusia karena orang-orang kaya dan saling berbagi dengan si miskin , dan orang miskin dapat tertolong. Sehingga lama kelamaan perbedaan kaya dan miskin tidak nampak. Masih banyak manfaat lainnya dari zakat , semua itu akan terwujud apabila dilakasanakan sesuai dengan aturan islam dan yang berhak mendapatkan zakat benar-benar terpenuhi. Didalam Islam dijelaskan siapa saja yang berhak mendapatkan zakat, ada 8 golongan dijelaskan didalam Al Quran surat At-Taubah ayat 60 yaitu :
"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin, pengurus -pengurus zakat, para muallaf, yang dibujuk hatinya untuk (memerdekan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Dan besarnya zakat yang akan dikeluarkan, baik zakat harta atau pun zakat fitrah besarnya telah diatur semuanya.
Kesimpulanya jika kita memiliki harta benda yang berlebih dan sudah sampai batasnya alangkah baiknya kita sisihkan dahulu untuk zakat karena khawatir di dalam harta yang kita miliki ada hak nya orang lain, takut jika harta itu termakan oleh kita maka kita sama saja memakan harta yang bukan menjadi hak kita, oleh karena itu kita wajib membersihkan harta kita.

KESIMPULAN
Kita tidak pernah tahu sampai kapan umur kita akan berakhir, Jangan samapai umur yang sedikit ini kita habiskan untuk kesenangan duniawi semata, tanpa sedikit pun memikirkan hari akhir. Berlomba-lobalah didalam melakukan kebaikan dan awali lah setiap amal perbuatan dengan niat karena Allah hingga pekerjaan itu selesai, serta jangan lalaikan apa pun yang sudah menjadi kewajiban kita semua.
Berdoalah semoga Allah melindungi kita selalau dan tidak menggolongkan diri kita kedalam orang-orang yang mendustakan Agama Allah (Naudzubillahiminzalik).

PENUTUP
Mungkin cukup sekian materi kali ini, semoga adik-adik tidak merasa puas dengan apa yang telah diberikan sehingga ada keinginan untuk mencari ilmu yang lebih dalam, Pada materi ini kita memang hanya mengabil garis besarnya, karena kita hanya mentadaburinya saja bukan menafsirkan, sehingga ini saja yang dapat di berikan .
Apabila ada kesalahan atau pun kehilapan maka tolong dimaafkan, karena kebodohan, kesalahan dan kehilapan itu datangnya dari hamba Allah yang bodoh ini. Dan bila ada suatu kebenaran maka itu datangnya dari Allah swt, Dzat Yang Maha Agung akan Kekuasaan-Nya. Kita tutup mentoring ini dengan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah).

Wassalamu'alaikum Wr.Wb


Posted at 3/7/2007 5:50:11 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Monday, February 12, 2007
Bahan Mentoring - Nikmat Iman dan Islam

   Assalamu'alaikum Wr. Wb!!
 Adik-adik sekalian yang kakak cintai karena Allah, Alhamdulillah. Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memudahkan kita untuk bertemu di dalam majelis atau pertemuan kita yang mulia ini.
  Adik-adik, majelis ini insya Allah akan menjadi tempat bagi kita semua untuk saling mengingatkan akan kebesaran Allah 'Azza wa Jalla. Mudah-mudahan keimanan kita kepada-Nya pun menjadi semakin mantap dan yakin. Insya Allah!!
 Shalawat dan salam kita tujukan kepada nabi kita Rasulullah Muhammad SAW. Juga tidak lupa kepada keluarga dan para shahabat beliau yang senantiasa menjaga dengan teguh keimanan dan keislamannya hingga akhir hayat mereka. 
 
Kisah Salman Al Farisi
 Adik-adik sekalian, ada yang pernah mendengar nama Salman Al Farisi? Ada yang bernama Salman di antara adik-adik? Atau mungkin temannya? 
 Yang kakak maksud di sini adalah Salman Al Farisi yang merupakan shahabat Rasulullah Muhammad SAW. Nah, coba ada yang tahu nggak, siapa lagi shahabat Rasul yang selain Salman? Coba sebutkan! 
 
Berita Kenabian
 Adik-adik, sebelum masuk Islam, Salman Al Farisi beragama Nashrani (Kristen, pen). Ia berguru kepada seorang pendeta di sebuah gereja. Pendeta tersebut sering menyampaikan kepada Salman tentang kabar akan munculnya nabi terakhir yang diutus Allah. 
 Dari mana sih pendeta itu tahu? Tentu saja dari kitab suci yang ia baca dan kaji, yaitu injil. Namun sayang, sekarang kita tidak akan menemukan lagi tulisan tersebut. Mengapa? Karena kitab tersebut telah diubah-ubah senaknya oleh orang-orang yang mengingkari kenabian nabi Muhammad SAW dan mengingkari sebagian dari hukum-hukum Allah. Mereka mengurang-ngurangi dan menambah-nambahi kitab mereka dengan seenaknya. Maka sudah tidak ada lagi kitab mereka yang asli hingga sekarang. Amat buruklah apa yang telah mereka lakukan. 
 Nah, kita kembali lagi ke Salman. Pada akhirnya, guru ngajinya Salman … eh … pendeta gurunya Salman meninggal dunia. Tapi, ia sempat berpesan pada Salman bahwa ia telah mendapat kabar munculnya nabi yang selama ini ditunggu-tunggu di jazirah Arab. Tepatnya di daerah yang di sana terdapat rumah Allah (Baitullah). Ayo, di manakah itu, adik-adik? 
 
Pengembaraan Salman
 Mulailah Salman mengembara menuju ke Mekkah. Namun sayang adik-adik, begitu tiba di Mekkah ternyata orang yang dicari Salman (yaitu Muhammad, pen) telah hijrah ke Yatsrib/Madinah. Udah mengembara jauh-jauh, eh nggak ketemu lagi!! Adik-adik, ternyata … jarak antara Mekkah ke Madinah itu seperti antara Jakarta ke Semarang!!! Subhanallah, coba ada yang tahu … berapa ratus kilometer? Padahal pada jaman itu belum ada bis atau angkot, apalagi kereta Argobromo dan pesawat terbang. Yang ada cuma onta! Sedangkan Salman tidak punya onta. Nah, apakah Salman malah jadi gondok? Lalu akhirnya menyerah? Tentu tidak …!! Salman terus melanjutkan perjalanan ke kota Madinah. 
 Setibanya di Madinah (fiuuh…, akhirnya!), Salman kemudian melakukan pengamatan terhadap nabi tersebut, yang ternyata bernama Muhammad. Tentu saja Salman nggak langsung percaya. Mengapa? Menurut kitab yang dibacanya, nabi tersebut memiliki dua ciri-ciri. Apakah itu? Adik-adik, … ada yang tahu? Mulailah salman bermain detektif-detektifan. 
 
Masuk Islamnya Salman
 Ciri pertama! Nabi itu tidak menerima sedekah, tetapi menerima hadiah. Salman menyaksikan bahwa suatu hari Muhammad dikirimi semangkuk besar susu kambing oleh tetangganya. Tetangga tersebut berkata bahwa ini adalah sedekah. Kemudian Muhammad memanggil orang-orang miskin yang ada di dekat rumahnya untuk minum susu itu bersama-sama. Tetapi, Muhammad tidak ikut minum!! Esoknya, ada seorang tetangga lagi yang mengirim semangkuk besar susu. Tetangga itu berkata bahwa ini adalah hadiah. Maka sekali lagi Muhammad memanggil orang-orang miskin tersebut untuk minum bersama. Kali ini, Muhammad ikut minum! Nah, ciri pertama ada pada nabi tersebut. 
 Ciri kedua! Nabi itu memiliki bulatan merah sebesar apel di punggungnya. Nah lho! Salman bingung! Gimana caranya bisa tahu? Padahal, Muhammad kan selalu pakai baju. Mau ngintip? Enak aja, … gengsi dong! Akhirnya pada suatu hari ada penduduk yang meninggal dunia. Muhammad memimpin acara penguburan jenazah. Saat penggalian tanah, Muhammad ikut serta menggali tanah bersama sahabatnya yang lain. Mata Salman tidak henti-hentinya melihat ke arah punggung Muhammad. Sampai akhirnya, Muhammad agak menurunkan bajunya sehingga punggungnya terlihat. Dan, Salman dengan mata yang berbinar-binar melihat adanya bulatan merah sebesar apel di punggung Muhammad!!! Mata Salman bercucuran air mata dan serta merta memeluk Rasulullah dari belakang dengan sangat gembiranya. Maka Salman pun bersyahadah di hadapan Rasulullah SAW dan disaksikan sahabat-sahabat yang lain saat itu juga. Subhanallah!! Salman sekarang masuk dalam barisan kaum muslimin. 
 
Pelajaran Bagi Kita
 Adik-adik sekalian, Salman adalah seorang hamba Allah yang dengan gigihnya mencari kebenaran. Sampai akhirnya, ia mendapatkan Islam sebagai agamanya. Ia harus berusaha mencari Islam dengan cara yang tidak mudah. Padahal, adik-adkku sekalian, agama yang ia cari adalah Islam yang merupakan agama yang kita anut saat ini. Alhamdulillah!! Kita patut bersyukur kepada Allah akan nikmat keimanan dan keislaman yang kita miliki saat ini. Padahal tidak semua orang seperti kita. 
 Nah adik-adik, Salman tetap memegang teguh keislamannya hingga akhir hayatnya. Ia ikut bersama Rasulullah SAW dan shahabat-shahabat yang lain dalam setiap perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. 
 Adik-adik, kita pun sama. Kita akan tetap menjaga keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak akan pernah rela melepaskan keislaman kita. Karena hanya dengan bekal inilah kita dapat berjumpa dengan Allah SWT dan mendapatkan ridha-Nya berupa kenikmatan surga yang abadi. 
 Allah berfirman : "dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka adalah penghuni surga. Mereka hidup kekal di dalamnya." (QS 2 Al Baqarah : 82) 
 Insya Allah bahasan kita tentang nikmat iman dan islam akan kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya. 
 
 
 Wallahu a'lam bishawab. 
 
 Wassalamu'alaikum Wr. Wb!! 

Posted at 2/12/2007 2:34:39 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Bahan Mentoring - Bagaimana Menjadi Seorang Muslim


 

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kalau kita seorang muslim lalu apa sih yang kita lakukan, adik-adik tahu ngga apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim? Ayo jawab!!

Dari Umar r.a. telah berkata : "Ketika kami sedang duduk dengan Rasulullah saw pada suatu hari maka dengan tiba-tiba terlihat oleh kami seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih berambut sangat hitam. Tidak tampak padanya tanda-tanda perjalanan dan tidak ada dari kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Rasulullah. Lalu ia menyandarkan lututnya dengan lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya pada paha Nabi, kemudian ia berkata : "Hai Muhammad, jelaskanlah tentang Islam".

Maka Rasulullah menjawab : "Islam adalah keharusan bagi engkau menyaksikan bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat, dan hendaklah engkau berpuasa bulan Ramadhan, dan hendaklah engkau mengerjakan haji ke Baitullah, jika engkau kuasa menjalaninya." Orang itu berkata : "Engkau benar." Maka kami heran, ia yang bertanya dan ia yang membenarkan. Lalu ia berkata kembali : "Tolonglah jelaskan tentang Iman." Jawab Rasulullah : "Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari akhir, dan hendaklah engkau beriman terhadap Qadha dan Qadar yang baik maupun yang buruk." Orang itu berkata : "Engkau benar……" Orang itu pergi. Aku diam sejenak. Kemudian Rasulullah berkata : "Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?" Jawabku : "Allah dan Rasulullah yang lebih tahu." Kata Nabi : "Dia itu adalah Jibril datang kepadamu untuk mengajar tentang agamamu." Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari Abu Abillah bin Umar bin Khattab telah berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda, Dibangun Islam itu atas lima perkara:

(1) Mengetahui bahwa tiada tuhan selain Allah

(2) Mendirikan shalat

(3) Mengeluarkan zakat

(4) Mengerjakan haji ke Baitullah

(5) Dan puasa pada bulan Ramadhan

Jadi kalau adik-adik mendengar cerita kakak tentang hadits di atas maka kita sebagai seorang muslim wajib mengamalkan rukun Islam dan beriman tentang rukun Islam. Kita haruslah beriman dengan sungguh-sungguh, artinya kita haruslah meyakini dalam hati, meyakini dalam perbuatan yang kita lakukan, dan dalam perkataan yang kita lakukan.

Selain itu, adik-adik sebagai seorang muslim haruslah mempunyai akhlak yang terpuji seperti oleh sebuah hadits: Apakah akhlak Rasul itu, maka dijawab oleh Aisyah: "Akhlak Rasulullah itu seperti Al-Qur'an." Itulah akhlak seorang Rasulullah dan kita sebagai seorang muslim haruslah meniru apa yang Rasulullah wajibkan dan sunnahkan pada kita. Benarkan adik-adik?

Sebagai seorang muslim juga kita harus memiliki keikhlasan sehingga apa yang kita lakukan itu ada gunanya di sisi Allah swt. Rasulullah bersabda, "Setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya. Maka barangsiapa yang berniat karena Allah dan Rasul maka ia akan mendapatkannya dan barangsiapa yang berniat karena dunia maka ia akan mendapatkannya pula." Maka Allah adalah tujuan kita, Rasulullah adalah uswah dan qudwah kita, dan Al-Qur'an adalah pedoman hidup kita.

Menurut Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, macam-macam akhlak yang harus menghiasi seorang muslim antara lain:

  1. Sabar
  2. Shiddiq
  3. Zuhud tawakal mencintai Allah
  4. Rasa takut dan harap
  5. Taqwa dan wara
  6. Syukur dan ridla
  7. Taubat terus-menerus.

Sampai di sini dulu ya …

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Posted at 2/12/2007 1:25:42 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Bahan Mentoring - Allah Melihat Kita (Muraqabatullah)

   Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
   Adik-adik pernah ngga ngalamin perasaan ngga enak pas diawasin sama guru di ulangan apalagi kalo ulangan umum? Hati kita tambah deg-degan lagi kalo gurunya jalan-jalan pas ngawasin kita. Rasanya setiap gerak sedikit pasti diliatin. Pokoknya kita harus bergerak super hati-hati supaya tidak menarik perhatian guru.
   Nah, Insya Allah sekarang kita mau membahas tentang sesuatu yang berhubungan dengan contoh di atas. Ada yang bisa nebak ngga?Ayo ada yang berani jawab? Ya udah Dikasih tahu aja yach. Sekarang kita mau membahas tentang Muraqabatullah.
   Muraqabatullah adalah kewaspadaan atau pengawasan Allah. Tentang pengawasan Allah ini saya punya cerita, gini ceritanya :

Cerita 1
   Peristiwa ini terjadi pada masa Umar bin Khahthtab. Ketika itu Umar tengah berjalan-jalan di suatu padang penggembalaan. Kemudian Umar melihat seorang bocah tengah mengembalakan sekawaann domba. Lalu Umar menghampiri bocah tersebut.
   Umar kemudian menawarkan pada bocah itu untuk membeli seekor domba gembalaannya. Akan tetapi bocah itu menolak. Kemudian Umar melipatgandakan harga yang semula ditawarkan. Tapi anehnya si bocah itu tetap tidak mau. Lalu Umar berkata, "Tak apalah jika aku membeli seekor domba gembalaanmu. Kau bilang saja pada majikanmu bahwa domba itu hilang. Toh dia tidak melihatnya."
   Kemudian bocah itu menjawabnya, "Jika demikian di manakah Allah? Bukanlah Ia Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya." Umar sangat terkesan dengan jawaban bocah tersebut. Keesokan harinya, Umar memanggil bocah itu dan memberinya hadiah.
   Subhanallah, bocah penggembala sekecil itu sudah merasakan adanya pengawasan Allah. Sungguh berbeda sekali dengan kita yang hanya takut kepada pengawasan manusia. Betul ngga?

Cerita 2
   Peristiwa kedua ini juga terjadi pada masa shahabat Umar bin Khaththab. Pada suatu malam yang gelap gulita. Ketika manusia tengah tertidur dengan pulasnya, Umar melakukan patroli keliling. Ketika Umar tengah berpatroli, ia berhenti pada suatu rumah yang masih terang benderang (artinya pemiliknya itu masih terjaga bukan?)
   Ternyata yang tinggal di rumah itu adalah seorang wanita tua beserta anak perempuannya yang mencari nafkah dengan berjualan susu. Mereka tengah menuang-nuangkan susu ke dalam suatu wadah.
Kemudian ibu itu berkata, "Anakku, kenapa tidak kau campur saja susu ini dengan air tawar. Dengan demikian kita akan mendapat keuntungan yang lebih. Para pembeli tidak akan mengetahui perbedaan rasanya kok!?"
   Tapi anak perempuannya itu menolak dan berkata, "Tapi Ibu, walaupun tidak ada orang yang melihat atau mengetahui perbuatan kita, Allah pasti tahu khan???"
   Demikianlah Umar yang mendengar percakapan ibu dan anak tersebut sangat terkesan dengan jawaban si anak yang takut kepada Allah.

Sebenarnya pengawasan terhadap manusia itu ada tiga macam lho. Mau tau ngga? Tau jangan-jangan udah ada yang tau lagi? Oke dech, saya kasih tau aja yach.  



1. Pengawasan Allah  

2. Pengawasan Malaikat  




Kalian sudah tahu khan malaikat yang bertugas mencatat amalan-amalan manusia. Ada yang berani jawab ngga? Masa sich ngga ada yang berani? Apa harus ditunjuk? Ya!!! Tepat sekali!! Kedua malaikat itu adalah Malaikat Raqib dan Atid. Ada yang bisa memberitahu apa tugas mereka?  

Kedua malaikat itu mencatat semua amalan kita (baik yang jelek maupun yang baik) dalam sebuah buku rapor. Pada saat kita dihisab nanti buku itu akan memperlihatkan semua amalan kita.  

Makanya mulai sekarang, kita harus memperbanyak amalan-amalan kita biar nanti rapornya ngga ada nilai merahnya.  



3. Pengawasan Panca Indera  




Kalian pasti sudah tahu bahwa pada saat di akhirat nanti yang bersaksi bukanlah mulut kita, akan tetapi semua anggota badan kita.  

Si tangan akan menceritakan dia dipergunakan untuk apa saja. Apakah ia digunakan untuk menjahili teman, misalnya nyubitin teman, mukulin teman, atau malah digunakan untuk perbuatan baik seperti membantu ibu memcuci piring, dll. Atau si mata yang bersaksi bahwa selama ia di dunia ia digunakan untuk membaca Al-Qur'an dan bukannya digunakan untuk melihat hal-hal yang tidak baik.  



Wah… sudah pada cape plus ngantuk yah? Biar ngga pada ngantuk, saya kasih satu bonus cerita. Mau ngga?  

Begini ceritanya… Syahdan dahulu kala di sebuah pesantren ada seorang murid yang teramat sangat disayangi oleh gurunya. Rasa sayang sang guru ini membuat iri murid-murid yang lain. Sampe-sampe mereka membicarakannya setiap hari. Pokoknya tiap hari kerjaannya ngegosip melulu! Sampai akhirnya, berita tentang kecemburuan ini sampai ke telinga sang guru.  

Pada suatu hari, sang guru mengumpulkan murid-muridnya. Kemudin dia memberikan seekor merpati kepada setiap murid. Setelah semuanya memegang merpati, ia memberi tugas untuk membunuh merpati itu dengan cara apapun tapi hanya satu syaratnya. Jangan sampai perbuatan mereka itu diketahui oleh orang lain. Para murid itu diberikan waktu satu minggu untuk memenuhi tugas yang diberikan.  

Berbagai macam cara dilakukan oleh para murid untuk membunuh si merpati tanpa diketahui oleh orang lain. Ada yang membunuhnya di tengah-tengah hutan, ada yang membunuhnya pada malam hari yang gelap gulita, ada yang membunuhnya di dalam gua, wah… pokoknya macem-macem deh caranya.  

Seminggu kemudian mereka dikumpulkan kembali. Apa yang terjadi?? Ternyata murid kesayangan sang guru belum membunuh merpatinya. Mereka menertawakannya dan mengatakan bahwa ia akan mendapatkan hukuman karena tidak melaksanakan tugas yang diberikan.  

Kemudian sang guru bertanya, "Hai fulan, kenapa engkau belum membunuh merpatimu?" Si murid pun menjawab, "Guru, bukankah engkau menyuruhku untuk membunuh merpati ini di tempat yang tidak ada seorang pun yang akan mengetahuinya?"  

Sang guru menjawab, "Iya, tepat sekali," Ia pun menjawab, "Maaf guru tapi saya tidak menemukan satu tempat pun di bumi ini yang tidak terlepas dari pengawasan Allah. Jadi bagaimana saya bisa untuk membunuh merpati ini???"  

Mendengar jawaban si fulan itu, murid yang lainnya mulai menyadari kenapa sang guru sangat menyayanginya.  

Nach, adik-adik… bagaimana sudah semangat lagi? Ada gula ada semut. Setiap amalan pasti ada hasilnya. Jika kita sudah menyadari bahwa Allah selalu menyertai kita, maka kita akan memetik buahnya. Buah itu adalah :  



1. Istiqamah  




Istiqamah artinya ketetapan hati. Jadi, meskipun teman kita ketika ulangan menyontek, kita tidak akan mengikuti perbuatan mereka. Kita akan yakin bahwa Allah melihat semua perbuatan kita. Walaupun nilai kita berada di bawah nilai teman yang menyontek, kita seharusnya tidak bersedih hati. Malah kita harus berlapang dada. Kenapa?? Karena walaupun nilai kita kecil tapi setidaknya kita sudah dapat nilai tambah di mata Allah.  



2. Jujur  




Dengan merasa adanya pengawasan Allah maka kita akan senantiasa berbuat jujur di mana pun karena kita yakin Allah akan melihat perbuatan kita.  



3. Ikhlas  




Dengan adanya pengawasan Allah, mudah-mudahan dapat menjadikan segala perbuatan kita ditujukan karena Allah, bukan karena yang lain.  


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posted at 2/12/2007 10:58:51 am by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Bahan Mentoring - Tamasya ke neraka


 Assalamu'alaikum Wr. Wb.
         Alhamdulillah yach, kita bisa berkumpul dengan membawa nikmat sehat yang Allah berikan sampai sekarang, walaupun diantara kita mungkin ada yang laper, haus, ngantuk yang InsyaAllah akan dibalas oleh Allah dengan pahala. Ya... adik-adik.
        Sekarang sebelum masuk pada pembahasan materi kakak mau nanya nich, siapa yang suka piknik atau tamasya ? ayo sipa ? biasanya kemana ? Nah... sekarang kita mau tamasya nich, mau ikut 'nggak ?. ayo tebak kemana coba ? Dan adik-adik jangan kaget dulu yach ! kita akan tamasya ke neraka. Tapi bukan neraka beneran yach (siapa coba yang mau ke neraka ? )sekarang kita akan membahas tentang neraka.
    Penghuni neraka itu banyak sekali yach.. adik-adik mungkin kalau dibahas satu-satu, satu hari 'nggak bakalan cukup. Nah, sekarang kita akan membahas tiga golongan yang akan masuk neraka, yaitu orang yang munafik, orang yang tidak mau membayar zakat dan orang yang mencampur adukkan antara yang halal dengan yang bathil.

Golongan Orang Munafik

Adik-adik tahu 'nggak siapa sich golongan orang munafik itu ? iya betul, yaitu golongan orang yang selalu berpura-pura dalam beriman dan dalam beragama. Di zaman Rasulullah juga banyak orang munafik. Misalnya begini, kalau didepan Rasulullah meraka mengaku beriman tetapi kalau dibelakang mereka membela orang-orang kafir. Nah...., Adik-adik tahu 'nggak ciri-ciri orang munafik ? Rasulullah bilang bahwa ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu jika berbicara selalu bohong, jika berjanji selalu ingkar, dan jika dipercaya selalu khianat. Ayo siapa yang suka bohong dan ingkar janji ? 'Nggak ada yach.

Allah sangat membenci orang-orang munafik, sehingga orang munafik akan menerima azab yang sangat pedih dan akan ditempatkan didalam neraka yang paling bawah, sesuai dangan firman Allah dalam surat An-NIsa 145 yang artinya : "Sesungguhnya orang munafik itu (ditempatkan) dari tingkat yang paling bawah sekali dalam neraka, dan engkau tidak akan memperoleh penolong baginya. Nauzubillahimindzalik

Golongan Orang yang tidak Mau Membayar Zakat

Nah, selain orang munafik, orang yang tidak mau membayar zakatpun akan dimasukkan kedalam neraka. Dineraka mereka menjerit kesakitan, soalnya harta meraka yang tidak dizakati itu akan dibangkitkan menjadi ular yang berbisa dan melilit tubuhnya (ihh... seram yach adik-adik). Selain itu orang yang suka memakan harta anak yatim didalam neraka akan memakan bara api yang sangat panas.

Orang yang memcampur adukan antara yang halal dengan yang bathil

Nah,.. Sekarang golongan yang akan masuk neraka yaitu orang yang mancampuradukan yang halal dengan yang haram dan yang hak dengan yang bathil, golongan ini selain mengerjakan perintah Allah juga melakukan larangan-Nya. Golongan seperti kelak dineraka akan ditarik perutnya kedepan sampai panjang lalu perutnya itu diputar.

Sekarang Adik-adik pengen tahu nggak keadaan neraka? Gini yach, batu dineraka itu diibaratkan dengan batu belerang didalam perut gunung api. Dan manusia didalam neraka itu diibaratkan kayu, semakin banyak bahan bakarnya maka apinya semakin menyala. Terus api didunia tidaklah seberapa hanya seperti sis-sis api neraka, seperti apa yang diceritakan dalam kitab Duratin-Nasihin: Ketika Nabi Adam diturunkan ke dunia maka malaikat memohon kepada Allah untuk membekalkan api untuk keperluan Nabi Adam.

Allah memerintahkan malaikat untuk menemui malaikat Malik, penjaga neraka untuk megambil api, lalu malaikat malik memberitahukan " sekiranya malaikat mengambil api dari neraka sebesar biji sawi untuk diletakkan di bumi maka hanguslah bumi ini". Mendengar jawaban itu malaikat itu menghadap Allah. Maka Allah memerintahkan mengambil sebesar tepung. Malaikat itu kembali menemui malaikat Malik.

Malikat Malikpun berkata " Kalau diambil sebesar tepung maka tidak akan hidup tumbuhan dibumi karena panasnya". Akhirnya malaikat itu diperintahkan mengambil sebesar atom, kemudian dicelupkan kedalam 70 lautan, kemudian diletakkan diatas gunung. ketika malaikat itu maletakkan api diatas sebuah gunung maka hancurlah gunung tersebut. Maka diperintahkan supaya api sebesar atom itu di kembalikan kedalam neraka. Jadilah sIsa bekas asap itu untuk digunakan oleh Adam dan anak cucunya diatas bumi ini.

Coba bayangan Adik-adik panas benget khan..? Api yang sekarang hanyalah bekasnya saja bukan api yang sebenarya. Jadi semoga kalau kita tahu gimana panasya api neraka kita bakal lebih hai-hati dalam berperilaku. Semoga Allah menjauhkan kita dari api neraka.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Posted at 2/12/2007 10:17:53 am by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Friday, February 09, 2007
KEBANGKITAN PEMUDA ISLAM SUATU KEMAJUAN HARUS DIBIMBING BUKAN DILAWAN

   CIRI khusus kebangkitan Islam kontemporer adalah tidak sekadar bermodalkan semangat, ungkapan verbal, dan slogan, melainkan kebangkitan yang benar-benar didasarkan pada komitmen terhadap Islam dan adab-adabnya, bahkan sunnah-sunnahnya

Pujian perlu diberikan kepada para pemuda mukmin karena mereka telah menghidupkan kembali sunnah-sunnah dan adab-adab Islam di kalangan lapisan terpelajar dan orang-orang yang hanya sedikit mempunyai perhatian terhadap agama. Maka setelah sekian lama berada dalam kevakuman, muncullah di tengah masyarakat, orang-orang yang ditengarai oleh Allah SWT,

"Mereka adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah... " (at-Taubah: 112).

Untuk mewujudkan misi suci ini, menjamurlah berbagai kelompok halaqah dan harakah di universitas-universitas. Dengan bersemangat mereka membangun masjid-masjid dan mengumandangkan azan. Bangkitlah jamaah pria maupun wanita untuk menyambut panggilan Islam. Meluaslah pemakaian jilbab, bahkan cadar, di kalangan akhwat (wanita muslim). Buku-buku dan berbagai literatur keislaman dipublikasikan secara luas. Generasi rabbani yang berkomitmen terhadap Islam tampil dengan ghirah membara. Gerakan inilah yang secara nyata merupakan fenomena paling besar dan strategis di Arab dan dunia Islam dewasa ini.

Faktor-faktor Kebangkitan yang Diingkari

Meskipun tidak diragukan bahwa kebangkitan Islam di kalangan para pemuda mempunyai kelebihan dan keseriusan, namun ada beberapa catatan (kritik membangun) yang perlu dikemukakan terhadap beberapa hal yang menjadi ciri gerakan ini, yaitu:

  1. Kedangkalan studi Islam dan syariatnya.
  2. Tidak mengakui kebenaran pendapat orang lain.
  3. Sibuk mempersoalkan masalah-masalah kecil dan melupakan masalah-masalah besar.
  4. Berdebat dengan pendekatan yang kasar.
  5. Cenderung memberatkan diri dan mempersulit persoalan.

1. Kedangkalan Studi Islam dan Syariatnya

Mayoritas pemuda yang bergabung dalam kelompok-kelompok ini mempelajari Islam secara otodidak. Mereka berguru pada buku-buku tanpa pembimbing yang dapat mengarahkannya, menafsirkan masalah-masalah dan istilah-istilah kunci yang masih samar-samar, mengembalikan masalah-masalah cabang kepada akarnya, dan mengikat bagian-bagian ke induknya.

Padahal studi Islam tidak dapat dilakukan dengan jalan pintas, sebab tidak terlepas dari hal-hal yang rumit dan beresiko. Hal-hal ini tidak dapat diselesaikan kecuali melalui berbagai latihan dan ketekunan. Apalagi bagi mereka yang masih berada pada tahap awal dan berhadapan dengan bermacam-macam pemikiran serta menemui berbagai ketidakjelasan dalam studi.

Orang yang mencari ilmu dengan cara di atas, oleh para ulama salaf disebut kelompok shahafi (kutu teks). Mereka menganjurkan kepada kelompok ini agar mencari ilmu dari para ahlinya dan orang-orang yang berpengalaman dan matang dalam suatu disiplin keilmuan. Allah SWT berfirman,

"..dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (Fathir: 14)

Pada dasarnya, para pemuda ini tidak dapat menerima apa yang selama ini dilakukan oleh para ulama. Kelompok pemuda ini muncul pertama kali secara spesifik di Mesir ketika banyak ulama yang berkredibilitas tinggi di hati umat sedang dipenjara, melarikan diri, atau hidup di pengasingan. Para ikhwan muda tersebut sudah tidak percaya lagi terhadap mayoritas ulama formal. Mungkin saja hal ini disebabkan karena hubungan ulama dan penguasa terlalu dekat atau karena keberanian mereka berbicara tentang Islam tanpa dasar yang kokoh.

Sehingga mereka menganggap bahwa para ulama salaf yang telah tiada itu lebih dapat dipercaya daripada mayoritas ulama pada zamannya. Hal ini senada dengan pernyataan Ibnu Mas'ud ra.,

"Barangsiapa yang mengikuti jejak, maka kendaklah mengikuti jejak orang-orang yang telah tiada, karena orang yang masih hidup itu engkau tidak dapat mempercayainya."

2. Tidak Mengakui Kebenaran Pendapat Orang Lain

Kelemahan lain yang ada pada mereka adalah keterpakuan pada satu sudut pandang masalah dan tidak mengakui kebenaran pendapat orang lain dalam masalah ijtihadi yang bersifat zhanni (mempunyai lebih dari satu penafsiran --peny.). Sehingga dari masalah tertentu akan muncul berbagai pemahaman, ijtihad, dan penafsiran. Penafsiran-penafsiran tersebut ada yang cenderung tekstual d an ada yang kontekstual, ada yang berpatokan pada zahir nash dan ada pula yang menangkap ruhnya (maksudnya nash --peny.). Wajar jika dalam perjalanannya, fikih berkembang pesat dan terbagi menjadi tiga aliran, yaitu: ra'yu (rasionalis), atsar (ahlu-hadist), dan zahiriyah (tekstual). Penulis mengamati bahwa aliran-aliran ini hidup saling berdampingan, bertoleransi, dan bekerjasama. Hal ini dapat tercipta karena adanya pengertian dari para pengikutnya bahwa setiap mujtahid mempunyai sudut pandang tersendiri. Masing-masing mujtahid memperoleh dua pahala jika ijtihadnya benar dan satu pahala jika salah. Bila terjadi perbedaan pendapat di antara mereka terhadap suatu masalah, maka hal itu diekspresikan dalam bentuk dialog konstruktif, tidak sampai keluar dari etika ilmiah dalam bentuk mencela atau melukai perasaan mitra dialog.

Ada pakar ushul fiqih yang merasa tak cukup hanya mengatakan bahwa para mujtahid akan memperoleh pahala melainkan menambahkannya dengan pernyataan, "Bahkan setiap mujtahid adalah benar."

Kecenderungan mempersempit diri amat wajar terjadi pada kelompok-kelompok pemuda Islam ini. Mereka belum mengetahui berbagai pandangan lain yang terdapat dalam lapangan pemikiran Islam. Mungkin juga mereka telah memahami sebagian khazanah pemikiran yang ada, namun mereka belum mampu membuat studi komparasi karena maraji (kitab-kitab rujukan) atau para syekh yang mereka ikuti menampilkan satu pandangan (aliran) pemikiran saja. Apalagi diperparah dengan kebiasaan mereka yang menganggap pendapat lain itu salah dan sesat. Tentu saja sikap tersebut bertolak belakang dengan sikap para ulama salaf yang menyatakan, "Pendapatku mungkin benar, namun juga mengandung kesalahan, dan pendapat lain mungkin salah, namun juga mengandung kebenaran." Demikianlah ungkapan maksimal seorang mujtahid tentang pendapat yang dikeluarkan, meskipun ada ulama lain yang berpendapat tentang hal tersebut secara keras, karena hasil ijtihad dapat dinilai sahih jika dikemukakan oleh seorang ahli secara memadai.

Pada umumnya, argumen yang diajukan kelompok-kelompok pemuda Islam adalah bahwa pernyataan-pernyataan mereka selalu didasarkan pada nash, dan jika ditemukan nash terhadap suatu masalah, maka ijtihad menjadi batal. Pandangan itu tidak benar, sebab ijtihad mempunyai lapangannya sendiri, yaitu harus ada nash untuk ditafsirkan, diambil kesimpulan hukumnya, dan dianalisis perbandingannya dengan nash-nash yang lain. Banyak nash yang zahirnya membutuhkan takwil, nash-nash 'am (umum) yang mengandung takhshish (pengkhususan), nash-nash mutlaq yang mengandung taqyid (penjelas-pengikat), serta nash-nash yang kelihatan kontradiktif dengan nash-nash lain dan kaidah-kaidah hukum.

Semua ini dikehendaki oleh Allah SWT. Bila tidak, tentu Allah menjadikan seluruh nash dalam bentuk muhkamat, tidak mengandung perbedaan interpretasi dan peluang keragaman. Akan tetapi, Allah sengaja menjadikan sebagian nash muhkamat (jelas dan tegas) dan sebagian lagi mutasyabihat (samar-samar) atau qath'iyat (pasti) dan zhanniyat (interpretatif). Pada dasarnya, pendekatan ini memberikan peluang kepada para mujtahid untuk berpikir dan keleluasaan terhadap para mukallaf (orang yang telah dibebani kewajiban melaksanakan hukum).

Penulis ingin memberikan ilustrasi mengenai perbedaan pendapat di kalangan sahabat dan bagaimana Rasulullah saw. menyikapinya, yakni pada kasus shalat Asar yang dilakukan di Bani Quraizah. Sebagian mereka melakukan shalat di tengah perjalanan karena mempraktekkan maksud dari nash, sedangkan sebagian yang lain melakukannya setelah tiba di Bani Quraizah padahal waktu shalat telah habis. Kelompok kedua cenderung memahami nash secara harfiah (tekstual). Rasulullah saw. tidak berlaku keras terhadap kedua kelompok itu (dapat menerima perbedaan pandangan tersebut-peny.).

3. Sibuk dengan Masalah-masalah Sampingan dan Mengabaikan yang Pokok

Para pemuda aktivis terlampau menyibukkan diri pada masalah-masalah yang tidak prinsipil dan tidak memberikan perhatian yang memadai pada masalah-masalah besar yang berhubungan dengan eksistensi dan masa depan umat. Mereka mempersoalkan kembali masalah-masalah usang yang telah lama diperdebatkan. Misalnya: memelihara janggut, memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki, menggerak-gerakkan telunjuk dalam tasyahud, dan fotografi.

Padahal kita sedang menghadapi sekularisme yang meracuni umat, Marxisme, Zionisme, kristenisasi, dan berbagai gerakan baru yang menghunjam tubuh umat serta menembus seluruh kawasan Islam yang luas di Asia dan Afrika. Itulah bentuk serangan baru musuh-musuh Islam yang bertujuan menghapuskan kepribadian kaum muslimin dan mencabutnya dari jati diri Islam. Pada saat yang sama, umat Islam disembelih dan para penganjur agama ini diintimidasi agar meninggalkan kewajiban sucinya.

Anehnya, dalam kondisi demikian, penulis menyaksikan kaum muslimin yang bermigrasi ke Amerika, Kanada, dan Eropa untuk melanjutkan studi atau bekerja, membawa masalah masalah kecil yang telah penulis sebutkan.

Penulis sering melihat dan mendengar dampak perdebatan keras dan perpecahan di antara kelompok-kelompok umat Islam yang disebabkan oleh masalah-masalah kecil yang bersifat ijtihadiyah. Dampak negatif tersebut adalah kian menajam dan suburnya aliran-aliran dan pemikiran-pemikiran yang beraneka ragam sehingga tidak mungkin mempersatukan umat di atasnya.

Sebenarnya yang harus menjadi prioritas mereka adalah bersungguh-sungguh memelihara kemurnian akidah umat Islam, mendorong pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan syariat, dan menjauhkan umat dari dosa-dosa besar. Ini karena bila umat Islam berhasil memelihara akidah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, dan menjauhi dosa-dosa besar, maka mereka dapat mewujudkan obsesi dan usaha-usaha yang agung.

Akan tetapi, sangat disayangkan, mereka malah menyukai perdebatan masalah-masalah yang tidak prinsipil dan mengabaikan kewajiban-kewajiban pokok, seperti berbuat baik terhadap orang tua, mencari nafkah yang halal, melaksanakan pekerjaan secara profesional, serta memelihara hak istri, anak, dan tetangga. Mereka tenggelam dalam perdebatan yang berkelanjutan hingga menjadi suatu kegemaran. Maka terjadilah permusuhan dan perselisihan di antara mereka.

Perdebatan semacam ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw.,

"Suatu kaum tidak tersesat setelah memperoleh petunjuk di mana mereka berada padanya, kecuali (jika) mereka melakukan perdebatan." (al-Hadist)

Hadist ini mengingatkan pada informasi yang penulis terima dari beberapa sahabat di Amerika mengenai seorang muslim yang amat keras menolak memakan daging sembelihan Ahli Kitab padahal sejumlah ulama dulu maupun sekarang menghalalkannya. Di lain sisi, ia tidak ambil pusing meminum minuman keras. Ia menyulitkan dirinya terhadap masalah ikhtilaf (yang dipertentangkan), tetapi ia melanggar hal yang jelas diharamkan.

Contoh lain adalah yang disampaikan oleh seorang sahabat besar bernama Abdullah bin Umar tentang seorang penduduk Irak yang amat berani mengerjakan dosa-dosa besar tetapi merasa tidak tenang dengan hal-hal yang remeh. Orang itu menanyakan kepada Ibnu Umar mengenai hukumnya terkena darah nyamuk. Anehnya, pertanyaan itu dilontarkan setelah peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali ra.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dari Ibnu Abi Na'im, "Seorang pria datang kepada Ibnu Umar dan kami sedang duduk, lalu beliau ditanya tentang hukumnya darah nyamuk." Menurut versi lain, orang itu bertanya tentang haramnya membunuh lalat. Lalu Ibnu Umar bertanya, "Dari siapa engkau mendengar pertanyaan ini?." Orang itu menjawab, "Dari penduduk Irak". "Begini," kata Ibnu Umar, "lihatlah kemari, ganjil rasanya, masalah darah nyamuk dipersoalkan, padahal mereka telah membunuh putera Rasulullah saw. (maksudnya Husein bin Ali ra., cucu Rasulullah saw. dari pernikahan Ali bin Abi Thalib ra. dan Fatimah az-Zahra ra.). Engkau telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Keduanya adalah bunga hatiku di dunia."

4. Berdialog (berdebat) dengan Cara yang Kasar

Kelemahan lain yang tak disukai dari kelompok-kelompok pemuda ini adalah cara mereka berdialog dengan orang atau kelompok lain yang berbeda pendapat. Ciri umum metode dakwah mereka dalam hal yang diyakini kebenarannya dan cita-cita yang tel ah digariskan, adalah dengan cara yang kasar dan keras.

Mereka menghadapi orang lain secara emosional dan tegang dan menolak cara dialog yang lebih baik terhadap orang yang menentang pendapatnya. Mereka tidak membedakan kawan bicara dari kalangan muda atau orang tua, tidak melihat apakah yang diajak berkomunikasi itu orang yang mempunyai kedudukan khusus seperti ayah-bunda atau orang lain, tidak membedakan antara orang yang banyak makan asam garam dunia dakwah dan jihad dengan mereka yang belum berpengalaman, dan tidak melihat tingkat pemahaman keislaman orang yang berdialog dengan mereka.

Cara kasar dan keras ini merupakan konsekuensi logis dari sikap tidak mau mengakui pendapat orang lain, kepicikan, dan su'uzhan (persangkaan negati). Padahal tujuan asal yang harus diingat adalah menciptakan kondisi keberislaman yang damai dan baik. Kelemahan ini juga merupakan akibat dari kondisi psikologis, sosial, politik, dan budaya yang menuntut respon berupa kebangkitan Islam (shahwah Islamiyah).

5. Cenderung Mempersulit Persoalan

Ciri lainnya adalah cenderung memperberat dan mempersulit persoalan, bersikukuh dalam pendirian dan sikap keberagamaan, berwawasan agama sempit, tidak meyukai keringanan (rukshah), menolak fatwa-fatwa ulama fikih yang memberikan keleluasaan praktek hukum, dan bahkan dalam batas-batas tertentu bersikap ekstrem dalam pemikiran dan perilakunya. Mereka lupa bahwa dasar penerapan hukum Islam adalah prinsip memudahkan dan menyenangkan.

Tidak puas dengan sikap kaku untuk diri sendiri, mereka bahkan menginginkan orang lain dan seluruh dunia sekalipun untuk mengikuti sikap ini.

Sikap keberagamaan ini muncul sebagai respon terhadap realitas umum yang cenderung menjauh dari agama, kediktatoran, kedurhakaan, modernisasi sekular, gaya hidup serba boleh (permissive), serta Komunisme dan Kapitalisme. Dapat dipahami jika realitas tersebut memicu lahirnya sikap keberagamaan yang radikal dan ekstrem.

Kebangkitan Harus Diarahkan, Bukan Dilawan

Bila demikian kondisi yang melingkupi gerakan pemuda Islam --yang meskipun begitu masih menampakkan sikap-sikap keberagamaan yang positif-- maka seyogianya para ulama dan pemikir mengarahkan gerakan kebangkitan ini dan meluruskan langkah-langkahnya, bukan malah menentangnya.

Arahan tersebut telah penulis upayakan sejak beberapa tahun ini dalam berbagai forum dan perkuliahan bersama mereka. Hal ini pulalah yang mendorong penulis untuk mengajukan sebuah artikel berjudul Fenomena Anarkis dalam Pengkafiran, fatwa penulis mengenai Seputar Shalat dalam Masjid-masjid Umat Islam, dan materi perkuliahan bertajuk Sikap Berlebihan dalam Realitas Umat Islam.

Penulis ingin menekankan dua hal kepada siapa pun yang mempunyai perhatian terhadap masalah pemuda, Islam, dan kebangkitannya.

Pertama, fenomena ini masih berada dalam kewajaran dan sehat. Indikatornya sangat jelas, yaitu adanya keinginan yang kuat untuk kembali kepada fitrah dan asal. Asal-muasal kita adalah Islam serta awal dan akhir kita tetap Islam. Fakta menunjukkan bahwa dalam kondisi apa pun dan dalam bentuk ujian bagaimanapun, mereka tetap konsisten dan berkomitmen kepada Islam.

Masyarakat kita telah berulang kali bereksperimen memecahkan problema yang dihadapinya dengan konsep-konsep Barat dan Timur, namun eksperimen itu tidak mampu merealisasikan cita-cita bangsa dalam mendidik individu dan memajukan masyarakat, tidak pula melahirkan manfaat bagi kehidupan beragama dan kemakmuran dunia, bahkan justeru menimbulkan berbagai bencana perpecahan yang bekas-bekasnya masih dapat kita saksikan sekarang.

Tidak diragukan lagi bahwa opini umum di seluruh kawasan masyarakat muslim mengarah kepada penyelesaian masalah besar ini sepenuhnya dengan Islam, yaitu dengan mengimplementasikan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Generasi muda telah mengambil peran dalam perjuangan tersebut dengan kekuatan dan kegigihan, maka mereka tidak mengenal lagi lembutnya politik dan politik moderat.

Kedua, pendekatan yang keras tidak boleh dihadapi dengan sikap keras pula. Ini karena sikap keras akan membuat mereka semakin keras dan permusuhan terhadap kelompok ini akan membuat mereka semakin menjauh. Jangan pula dipecahkan dengan cara yang dangkal dan sikap apriori, sebab tidak seorang pun mampu menggoyahkan keikhlasan hati mereka, ketulusan mereka terhadap Allah SWT, dan kejujuran mereka pada diri sendiri.

Solusi yang paling tepat adalah mengadakan pendekatan kepada mereka, memahami posisi dan pemikiran mereka sebaik-baiknya, bersangka baik (husnuzhzhan) terhadap niat dan tujuan mereka, berusaha menghilangkan jurang pemisah antara mereka dan masyarakat sekitarnya, menggalakkan dialog ilmiah bersama, mencegah perselisihan, dan mengadakan kesepakatan-kesepakatan dalam hal-hal yang diperselisihkan

Posted at 2/9/2007 7:10:47 pm by dwiyusuf
Tulis Komentar  

Next Page

© 2005 cyberfikri.blogdrive.com All Rights Reserved


<xmp>